Artikel tentang Peran Komunikasi Orang Tua dengan Anak Usia Remaja

Peran Komunikasi Orang Tua dengan Anak Usia Remaja

Ilustrasi 1

                Anto adalah anak SMP kelas 7. Tampak dari luar, Anto adalah anak yang sehat, aktif selayaknya anak remaja lainnya. Dia rajin ke sekolah dan selalu mengusahakan dirinya tidak terlambat ke sekolah. Tapi sayangnya, di sekolah, banyak teman di kelasnya menolak Anto. Teman-temannya menilai Anto adalah anak yang kasar, mengeluarkan kata-kata yang kasar kepada temannya. Bahkan dengan beraninya dia melakukan ini kepada beberapa gurunya. Banyak yang mencap Anto sebagai anak nakal, guru-guru di sekolahnya bahkan memiliki pendapat yang hampir sama, bahwa Anto memiliki masalah. Wali kelasnya Anto berusaha menjalin komunikasi dengan orang tuanya. Setelah berkomunikasi dengan orang tuanya, ditemukan bahwa di rumah Anto jarang berkomunikasi dengan Ayahnya, bahkan Anto sering membentak ibunya. Hampir setiap hari terjadi keributan di rumahnya karena Anto sering beradu argument dengan ibunya. Ibunya mencap Anto sebagai anak yang nakal bahkan bodoh. Bapaknya hampir tidak pernah berbicara dengan Anto selama satu hari.

Ilustrasi 2

                Cyndi adalah anak SMA kelas 10. Dia adalah anak yang pintar, bahkan sering juara di kelasnya. Dia adalah anak yang terlibat aktif di beberapa kegiatan di sekolahnya. Hampir setiap hari, dia mengunjungi Guru BImbingan Konseling di ruangan BK. Ada begitu banyak cerita yang diceritakannya kepada Guru Bimbingan Konseling. Dia menceritakan tentang kegiatan di kelasnya, hal-hal yang lucu dengan teman-temannya, dan bahkan sampai hal-hal yang rahasia. Guru Bimbingan Konselingnya dengan penasaran bertanya kepada Cyndi apakah dia sering menceritakan hal yang sama kepada orang tuanya atau tidak. Jawaban yang mengejutkan ditemukan oleh guru BK, ternyata dia tidak menceritakan hal-hal tersebut kepada orang tuanya. Setelah ditanya, Cyndi menjawab bahwa dia tidak mempercayai orang tua lebih khusus mama karena mamanya tidak bisa memegang hal-hal yang rahasia, bahkan pernah Cyndi diejek oleh tante dan keponakannya atas cerita yang diceritakan Cyndi kepada mamanya.

Sebagai orang tua, apakah anda pernah mengalami hal-hal tersebut di atas? Pernahkan anda hampir setiap hari bertengkar dengan anak anda? Apakah anak anda berkata dan bertingkah laku terlalu kasar kepada anda? Atau pernahkan anda mendengar hal-hal luar biasa yang dialami anak anda dari cerita orang lain? Pernahkah anda mengalami masa-masa sulit dimana anak anda tidak berkomunikasi dengan anda untuk hal-hal yang dialaminya selama di sekolah atau di tempat lain? Hal-hal ini dialami oleh beberapa orang tua di berbagai belahan bumi dan bagi sebagian orang tua hal ini masih merupakan hal sulit untuk dipecahkan. Meskipun pernah mengalami masa-masa remaja, beberapa orang tua masih sulit mengenal anak remaja dan karakteristiknya. Saat anak remaja mereka mengalami kesulitan, orang tua masih tidak tahu cara untuk masuk kedalam dunia anak remaja, kebanyakan mereka menggunakan konsep pemahaman mereka sendiri tanpa mengenal dengan baik anak remaja itu sendiri.

Beberapa ahli memiliki batasan yang berbeda-beda mengenai usia anak remaja. Hurlock (1981) mendefinisikan remaja adalah anak yang berada pada rentan usia 12 sampai dengan 18 tahun1. Stanley Hall yang dikutip dalam Santrock (2003) membatasi usia remaja pada 12 sampai 23 tahun4. Monks memberikan batasan usia dari 12 sampai dengan 21 tahun (2000)2. Batasan usia yang disampaikan oleh para ahli memiliki beberapa persamaan dimana masa remaja dimulai pada usia 12 tahun, sedangkan perbedaannya akhir dari usia remaja ini masih terus diteliti oleh beberapa ahli.

Dalam perkembangan sebagai remaja, terjadi beberapa perubahan yang menyebabkan kebingungan baik secara fisik maupun secara kognitif. Secara kognitif, anak remaja juga mengalami perubahan. Piaget yang dikutip oleh Santrock (2003), menjelaskan bahwa pada masa perkembangan ini remaja mulai berpikir dari abstrak ke konkrit4. Perubahan yang sering sulit dimengerti oleh beberapa orang tua adalah perubahan social dimana mereka akan belajar bersosialisasi dan mulai berpindah dari cara hidup yang indvidualistis ke sosialis.

Pada masa pertumbuhan ini, banyak orang tua menghadapi banyak kebingungan dan kesulitan dalam membimbing anak-anaknya. Kesulitan dan kebingungan ini, selain disebabkan oleh ketidaktahuan orang tua, hal lain juga disebabkan oleh harapan orang tua yang berbeda kepada anak remaja mereka. Beberapa orang tua berharap bahwa di usia remaja, anak mereka akan lebih sopan, pandai bergaul, pintar dan sukses. Harapan ini membuat orang tua terkadang bertindak berlebihan dalam menjaga anak tanpa memperhatikan perkembangan anak. Kesulitan orang tua untuk mengomunikasikan harapan mereka kepada anak dan ketidaktahuan bahkan ketidakmengertian anak dengan berbagai tindakan orang tua menyebabkan masalah yang dihadapi oleh orang tua dan anak.

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk membuat anak remaja terhindar konflik dengan orang tua, bahkan mempercayai orang tua untuk menjadi pendamping mereka di masa-masa sulit yang mereka alami. Salah satu yang penting yang dibahas dalam artikel ini adalah komunikasi. Komunikasi yang terjalin antar orang tua dengan anak. Komunikasi, menurut Roben, merupakan kegiatan perilaku atau kegiatan penyampaian pesan atau informasi tentang pikiran atau perasaan (2008)3.

Dalam berkomunikasi dengan remaja, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, sebagai berikut:

Apa. Saat berkomunikasi, ‘apa’ lebih berkaitan dengan isi pesan yang akan disampaikan oleh orang tua kepada anak. Orang tua yang mau berkomunikasi dengan anak harus memiliki pesan yang jelas. Kejelasan pesan ini sering terganggu saat orang tua yang berkomunikasi dengan anak dalam keadaan marah. Orang tua sebaiknya mempersiapkan dengan baik isi pesan saat berkomunikasi dengan anak, karena isi pesan itu dapat merubah hidup dari anak yang menerima pesan tersebut.

Siapa. Berkomunikasi dengan anak, orang tua perlu memperhatikan dengan benar pribadi dari anak, yang dimaksudkan disini adalah lebih pada tahap perkembangan anak. Anak bisa berada pada rangkaian usia bayi, toddler & pra sekolah, usia sekolah, remaja, dewasa, dll. Berkaitan dengan komunikasi, beberapa orang tua sering salah dalam berkomunikasi dengan anak, ada orang tua yang memperlakukan anak remaja seperti anak kecil saat berkomunikasi atau juga sebaliknya, hal ini berdampak buruk kepada perkembangan anak.

Kapan. Masalah yang timbul dalam diri anak juga disebabkan oleh kurangnya waktu orang tua berkomunikasi dengan anak. Kesibukan orang tua terkadang menjadi alasan untuk berkomunikasi dengan anak. Sebenarnya orang tua bisa berkomunikasi dengan anak kapan saja, misalnya saat sarapan pagi, mengantar anak ke sekolah, menjemput anak dari sekolah, makan malam, menonton tv bersama, mengunjungi suatu tempat bersama, atau saat menghabiskan akhir minggu bersama. Apabila komunikasi ini dibatasi oleh tempat, orang tua bisa menggunakan alat komunikasi dengan maksimal, menelpon, menggunakan pesan singkat, melakukan video call.

Dimana. Sekali lagi perlu ditegaskan bahwa komunikasi orang tua dan anak tidak dibatasi oleh baik waktu maupun tempat. Berkaitan dengan ‘dimana’, topik atau isi pembicaraan menentukan kualitas dari pembicaraan. Apabila anak ingin menceritakan hal-hal yang bersifat rahasia, tentu orang tua juga bisa menyediakan tempat yang tempat misalnya mengajaknya berbicara di tempat yang tidak ramai, begitu juga saat orang tua berada dalam keadaan marah dan menegur anak, pada umumnya menegur anak di depan umum atau di depan teman-temannya dapat mengganggu isi pesan saat berkomunikasi.

Mengapa. Berkaitan dengan hal ‘mengapa’, orang tua perlu menyadari bahwa orang tua memang wajib berkomunikasi dengan anak, hal ini dilakukan sebagai bentuk tanggungjawab orang tua kepada anak. Komunikasi wajib terus dijalin oleh orang tua meskipun anak tersebut sudah menikah. Komunikasi ini dilakukan berdasarkan prinsip kasih, bukan hanya simpati tapi juga empati. Berkaitan dengan tanggungjawab orang tua untuk berkomunikasi dengan anak, apabila anak dengan terbuka menceritakan hal-hal yang dialaminya, ini akan menghindarkan anak untuk mencari pendapat atau jalan keluar dari orang yang kurang tepat, bahkan membahayakan mereka.

Bagaimana. Setiap orang tua memiliki cara sendiri untuk berkomunikasi dengan anak mereka. Komunikasi dengan anak bisa dilakukan secara langsung (berhadapan atau melalui media), atau juga melibatkan pihak ketiga (Guru, Pembina Anak, Pembina Remaja, Pendeta, dll). Di point ini, sedikit saran yang bisa dibagikan saat berbicara dengan anak secara langsung adalah 1). Yakinkan saat berbicara dengan anak, terjadi kontak mata dengan anak, 2). mendengar dengan saksama apa yang diceritakan oleh anak, 3). Berusaha menjawab setiap pertanyaan anak, atau menjelaskan sebenar mungkin keraguan-keraguan yang dimiliki anak, 4).  Apabila anak melakukan kesalahan, berikan kesempatan sebaik mungkin bagi anak untuk menjelaskan kejadiannya dari sisinya, setelah selesai orang tua bisa menjelaskan dari sisi orang tua, 5). Jangan cepat mencap anak dengan istilah/kata-kata tertentu seperti “kamu tidak tahu apa-apa”, “kamu bodoh”, dll, melainkan usahakanlah menggunakan kata-kata yang membangun rasa percayanya untuk berkomunikasi dengan orang tua.  Hal-hal ini menumbuhkan rasa kepercayaan anak untuk berbicara dengan orang tua apabila dia mengalami sesuatu.

Komunikasi yang terjalin baik antara anak dan orang tua sejak usia dini memiliki dampak besar. Komunikasi yang baik adalah dengan memperhatikan pertumbuhan dan perrkembangan anak, sehingga ini dapat membawa dampak yang baik kepada anak. Komunikasi yang memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan anak akan membangun kedekatan emosi orang tua dan anak sehingga anak memiliki keterbukaan dengan orang tua. Keterbukaan ini mencegah anak untuk melakukan hal-hal yang dapat merugikan diri dan orang lain.

Selamat berjuang menjadi orang tua yang bijak dalam berkomunikasi baik dengan anak.

 

Daftar Pustaka:

1 Hurlock, E.B. (1991). Psikolgi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan (Terjemahan oleh Istiwidayanti dan Soedjarwo). Jakarta : Penerbit Erlangga

2 Mongks, F. J. , Knoers, A. M. P. , & Haditono, S. R. (2000). Psikologi Perkembangan: Pengantar dalam berbagai bagiannya. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

3 Roben. 2008. Manusia Komunikasi : Komunikasi Manusia. PT Kompas Media Nusantara. Jakarta.

4 Santrok, J. W. (2003). Adolescence (Perkembangan Remaja). Terjemahan. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *